Maraknya tren olahraga viral di media sosial—seperti fun run, gym, hingga paddle—kerap memunculkan pertanyaan apakah hal ini murni didasari oleh kesadaran kesehatan atau sekadar Fear of Missing Out (FOMO). Menurut Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), fenomena pamer aktivitas kebugaran di dunia maya ini pada dasarnya bisa menjadi pemantik awal yang positif agar masyarakat mulai bergerak. Namun, ia memperingatkan bahaya jika motivasi tersebut hanya sebatas ikut-ikutan atau mengejar validasi sosial. Berolahraga secara reaktif dan memaksakan diri tanpa persiapan—seperti langsung berlari belasan kilometer demi unggahan aplikasi—sangat berisiko memicu overtraining. Tubuh manusia memiliki batas kapasitas yang memerlukan adaptasi, sehingga aktivitas fisik mutlak harus dilakukan secara terukur, bertahap, dan terstruktur.
Agar tren sesaat ini dapat bertransformasi menjadi investasi kesehatan jangka panjang, motivasi eksternal dari media sosial harus perlahan diubah menjadi kebutuhan intrinsik atau kebiasaan (habit). Dr. Eko menyarankan agar generasi muda tidak perlu memaksakan diri mengikuti tren olahraga berat, melainkan cukup memulai dari aktivitas fisik yang sederhana namun dilakukan secara konsisten, seperti jalan kaki atau peregangan ringan. Olahraga ringan yang rutin jauh lebih aman dan menyehatkan bagi metabolisme tubuh dibandingkan aktivitas berat yang hanya dilakukan sesekali. Dengan bergabung dalam komunitas yang tepat serta memahami kapasitas dan risiko diri sendiri, olahraga akan berubah dari sekadar ajang pamer menjadi “obat alami” untuk menjaga kebugaran di masa depan.
Source: news.ums.ac.id
By: Shabrina K.

