Menjaga gaya hidup aktif selama bulan puasa sangat krusial karena manfaat kesehatannya jauh lebih besar dibandingkan gaya hidup sedenter yang pasif. Dengan tetap berolahraga, tubuh akan merasa lebih bugar dan fit, sehingga ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih lancar dan optimal. Namun, perlu diingat bahwa tujuan utama berolahraga di bulan Ramadan adalah untuk memelihara kebugaran tubuh, bukan untuk mengejar peningkatan performa atletik yang berat. Hal ini penting dilakukan guna menghindari risiko dehidrasi serta penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) yang berlebihan saat perut dalam keadaan kosong.
Terkait teknis pelaksanaannya, intensitas olahraga yang disarankan adalah level ringan hingga sedang dengan durasi yang lebih singkat dari biasanya. Jika pada hari biasa Anda berolahraga selama 40 hingga 60 menit, maka selama puasa cukup lakukan selama 20 hingga 30 menit saja. Untuk frekuensi, Anda tetap dapat mengikuti pola rutin sebelumnya, yakni sekitar tiga hingga lima kali seminggu. Perubahan utamanya hanya terletak pada pengurangan beban latihan agar tubuh tidak merasa terbebani secara fisik namun tetap mendapatkan stimulasi gerak yang cukup.
Mengenai waktu terbaik, terdapat tiga pilihan utama: sebelum sahur, menjelang berbuka, atau setelah berbuka puasa. Pilihan sebelum berbuka dianggap cukup efektif karena kehilangan cairan dan kalori dapat segera tergantikan saat adzan berkumandang. Sementara itu, jenis olahraganya bisa tetap mengikuti hobi lama seperti lari atau yoga dengan intensitas yang diturunkan. Bagi pemula yang baru ingin memulai, aktivitas ringan seperti jalan santai, bersepeda pelan, atau senam ringan di rumah sangat direkomendasikan agar tubuh tetap aktif tanpa risiko kelelahan yang ekstrem.
source: www.rspelni.co.id
by: ilyas junsar

