Menjaga kondisi fisik tetap prima selama berpuasa sangat bergantung pada pengaturan pola hidup, terutama saat memulai hari dengan sahur. Melewatkan sahur sama saja dengan membiarkan tubuh beraktivitas tanpa bahan bakar, sehingga sangat disarankan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya karbohidrat kompleks, protein, dan serat seperti gandum, daging, serta sayuran. Nutrisi tersebut berfungsi menjaga rasa kenyang lebih lama dan memberikan energi yang stabil hingga waktu berbuka tiba, sehingga tubuh tidak mudah merasa lemas atau lesu meskipun sedang menahan haus dan lapar.
Selain aspek nutrisi, manajemen hidrasi dan kontrol porsi makan menjadi kunci utama agar metabolisme tetap terjaga. Dehidrasi sering kali menjadi penyebab utama kelelahan, sehingga menerapkan pola minum “2-4-2” (saat berbuka, malam hari, dan sahur) sangat efektif untuk mencukupi kebutuhan cairan sebanyak 2 liter per hari. Di sisi lain, penting untuk menghindari perilaku makan berlebihan saat berbuka yang justru memicu gangguan pencernaan dan perut begah. Membatasi asupan gula agar tidak melebihi 50 gram sehari serta menjauhi makanan berminyak atau gorengan juga sangat membantu dalam menjaga kadar kolesterol dan berat badan tetap ideal selama bulan Ramadan.
Terakhir, kebugaran saat berpuasa harus didukung oleh istirahat yang berkualitas dan aktivitas fisik yang teratur. Meskipun pola tidur cenderung berubah karena jadwal sahur, mengusahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam tetap menjadi prioritas agar tubuh memiliki waktu untuk regenerasi energi. Selain itu, puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak; olahraga ringan selama 30 menit yang dilakukan menjelang berbuka atau setelah tarawih justru dapat meningkatkan stamina. Dengan mengombinasikan istirahat yang cukup, olahraga rutin, serta pemilihan menu makanan sehat, tubuh akan tetap fit dan produktif dalam menjalankan ibadah tanpa gangguan kesehatan yang berarti.
source: www.siloamhospitals.com
by: ilyas junsar

